Kegagalan Nalar dalam Narasi Tambang Boltim: Ketika Sentimen Mengubur Fakta
IndoFaktual.com, Opini – Fenomena narasi mengenai dugaan keterlibatan pejabat dalam tambang ilegal di Boltim belakangan ini menjadi potret buram bagaimana sebuah informasi diproduksi tanpa tanggung jawab moral.
Meski isu lingkungan dan korupsi adalah “seksi” untuk dibahas, penyajian teks yang beredar justru mencederai muruah jurnalistik karena lebih mengedepankan pembunuhan karakter berkedok inisial ketimbang verifikasi yang solid.
Menautkan inisial “R.S” secara spesifik dengan sebuah jabatan publik di tengah dugaan yang masih mentah adalah bentuk kecerobohan fatal; ini bukan lagi jurnalisme, melainkan upaya penggiringan opini yang sangat berisiko pada delik fitnah.
​Lebih jauh lagi, tulisan tersebut tampak kehilangan arah akibat besarnya ego penulis untuk menghakimi. Penggunaan diksi emosional seperti “ujian integritas” atau “tuntutan keadilan” adalah bahasa khas aktivis yang sedang melakukan agitasi, bukan jurnalis yang seharusnya berdiri netral sebagai pemantul fakta.
Fakta yang kuat tidak pernah membutuhkan dramatisasi berlebihan untuk terlihat benar. Ketika sebuah tulisan sudah “berteriak” memaksa pembacanya untuk marah sebelum menyajikan data yang lengkap, maka nilai objektivitasnya secara otomatis gugur di hadapan logika publik.
​Sifat spekulatif juga menjadi lubang besar yang menganga. Penggunaan pengandaian “jika benar, maka…” menunjukkan bahwa narasi ini dibangun di atas pondasi pasir yang rapuh.
Jurnalisme profesional bekerja dengan bukti autentik dan saksi yang kredibel, bukan dengan pengandaian atau “cocoklogi” berdasarkan isu yang beredar. Kondisi ini diperparah dengan absennya prinsip cover both sides; membiarkan satu pihak menjadi sasaran tembak tanpa memberikan hak jawab yang setara adalah tindakan pengecut dalam dunia pers.
Narasi satu telinga semacam ini tidak akan pernah menghasilkan kebenaran, melainkan hanya kegaduhan yang kontraproduktif bagi penegakan hukum itu sendiri.
​Pada akhirnya, teks mengenai tambang Boltim tersebut gagal membedakan mana laporan peristiwa dan mana curahan hati pribadi. Ia ingin tampil sebagai berita, namun jiwanya tetaplah sebuah selebaran protes yang campur aduk.
Publik memang berhak mengetahui apa yang terjadi di daerahnya, namun mereka tidak berhak disuguhi informasi yang cacat logika dan dipenuhi kebencian.
Jika ingin dianggap serius, narasi ini harus dibersihkan dari sisa-sisa amarah dan disusun ulang dengan kepala dingin, data lapangan yang akurat, serta komitmen penuh pada kejujuran intelektual.
Penulis : Parz



