
Dicky Wahyudi Daumpung Soroti Krisis Air Bersih SPAM Nuangan
IndoFaktual.com, Boltim – Isu kritis mengenai akses air bersih di wilayah Kecamatan Nuangan menggema dalam forum Rapat Paripurna Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun Anggaran 2025 yang digelar pada Selasa (31/3/2026). Persoalan yang telah mengakar selama beberapa tahun ini menjadi sorotan utama anggota legislatif, yang sekaligus menandakan urgensi penanganan yang semakin mendesak dari pemerintah daerah.
Dicky Wahyudi Daumpung, perwakilan rakyat dari Fraksi Demokrat di DPRD Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), mengangkat suara masyarakatnya terkait pelayanan Sistem Penyediaan Air Minum yang dinilai belum optimal. Fokus kritiknya tertuju pada kondisi infrastruktur air di Desa Loyow dan Iyok, dua wilayah yang menjadi contoh nyata dari tantangan distribusi air bersih di kawasan pedalaman.
Dalam penyampaian aspirasinya di hadapan forum paripurna, Dicky mengungkapkan frustrasi yang dialami oleh konstituennya. Masyarakat setempat telah berulang kali menyampaikan pengaduan selama kurang lebih empat tahun lamanya, namun solusi yang diberikan selalu terbatas pada alasan teknis yang berulang tanpa perbaikan substansial.
“Laporan masyarakat ini selama empat tahun alasannya tetap sama; anggaran dan pipa tersumbat. Padahal masalah penjaringan pipanya tidak sesuai, sehingga distribusi air kurang,” tegas legislator yang akrab disapa Dicky ini dengan nada yang menyiratkan keprihatinan mendalam.
Pernyataan tersebut menggambarkan paradoks yang sering terjadi dalam pengelolaan infrastruktur publik di tingkat daerah. Sementara alokasi anggaran teknis selalu dijadikan pembenaran, masyarakat terus mengalami dampak langsung dari ketidakmampuan sistem dalam menyalurkan air bersih ke rumah-rumah mereka. Masalah penjaringan pipa yang tidak sesuai standar teknis menjadi akar permasalahan yang seharusnya dapat diatasi dengan perencanaan yang lebih matang.
Sebagai bentuk kreativitas dalam advokasi, Dicky Daumpung menutup aspirasinya dengan sebuah pantun yang menggambarkan harapan masyarakat Nuangan. Pesan yang disampaikan dengan cara tradisional namun penuh makna tersebut berbunyi:
“Pagi yang cerah di pinggir Danau Totabuan, Kepada Pemda, mohon prioritaskan air SPAM di Nuangan.”
Pantun tersebut tidak sekadar hiburan dalam forum formal, melainkan menjadi pengingat poetis bagi pemerintah daerah bahwa akses air bersih merupakan kebutuhan dasar yang tidak dapat ditunda-tunda. Referensi Danau Totabuan sebagai ikon geografis wilayah tersebut juga menegaskan identitas lokal yang patut diperhatikan dalam setiap kebijakan pembangunan.
Penulis : Redaksi



