80 Tahun Bhayangkara:Bakti Yang Dipuji Ditengah Kritik, Caci dan Maki

Oleh: Basrizal Dt. Panghulu Basa.
Ketua Presidium Majelis Kerapatan Adat Nagari – MKAN – Batipuah X Koto Padang Panjang
Delapan puluh (80) tahun bukanlah usia yang pendek bagi sebuah institusi negara. Selama delapan dekade, Kepolisian Republik Indonesia telah menjadi garda terdepan dalam menjaga keamanan, menegakkan hukum, mengayomi, dan melayani masyarakat. Di balik setiap keberhasilan mengungkap kejahatan, mengatur lalu lintas, mengamankan bencana, hingga menjaga stabilitas nasional, ada ribuan anggota Bhayangkara yang bertugas siang dan malam, bahkan mempertaruhkan nyawa.
Namun, usia yang matang juga membawa konsekuensi: semakin besar harapan publik, semakin keras pula kritik yang diterima. Hari ini, institusi kepolisian berdiri di persimpangan antara pujian atas pengabdian dan kritik, caci, bahkan makian akibat berbagai penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian anggotanya.
Inilah ironi yang harus dihadapi Bhayangkara pada usia ke-80.
Polisi adalah instrumen negara yang diberi kewenangan luar biasa. Mereka boleh menangkap, menahan, melakukan penyelidikan, penyidikan, hingga menggunakan kekuatan dalam batas-batas yang diatur hukum. Karena kewenangan itu besar, maka tanggung jawab moral dan hukumnya pun harus jauh lebih besar.
Masyarakat tidak membenci polisi. Yang ditolak adalah penyalahgunaan kekuasaan, ketidakadilan, pungutan liar, kriminalisasi, kekerasan yang berlebihan, serta praktik-praktik yang mencederai rasa keadilan. Ketika hukum tampak tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas, kepercayaan publik pun terkikis.
Namun, di tengah kritik itu, kita juga perlu bertanya dengan jujur: apa yang terjadi bila sehari saja Indonesia tanpa polisi?
Bayangkan tidak ada yang mengatur lalu lintas. Kemacetan berubah menjadi kekacauan. Tidak ada yang merespons kecelakaan. Tidak ada yang mengejar pencuri, perampok, bandar narkoba, pelaku perdagangan manusia, maupun kelompok kriminal lainnya. Konflik sosial yang kecil bisa membesar karena tidak ada aparat yang menjadi penengah. Demonstrasi berpotensi berubah menjadi kerusuhan. Keamanan objek vital menjadi rapuh. Rasa aman masyarakat menghilang.
Peradaban modern tidak mungkin berjalan tanpa penegakan hukum. Negara yang kuat bukanlah negara yang tidak memiliki polisi, melainkan negara yang memiliki polisi yang profesional, berintegritas, dan dipercaya rakyat.
Karena itu, kritik terhadap kepolisian bukanlah bentuk kebencian kepada institusinya. Kritik justru merupakan bentuk kepedulian agar Bhayangkara tetap berada di jalan pengabdian. Institusi yang anti-kritik akan kehilangan kemampuan memperbaiki diri, sedangkan institusi yang terbuka terhadap kritik akan tumbuh semakin kuat.
Di usia ke-80 ini, Bhayangkara dituntut melakukan pembenahan secara menyeluruh: memperkuat integritas, menindak tegas oknum yang menyimpang, meningkatkan profesionalisme, memperbaiki pelayanan publik, menjunjung tinggi hak asasi manusia, dan memastikan hukum ditegakkan tanpa pandang bulu.
Masyarakat pun memiliki tanggung jawab yang sama. Polisi tidak dapat bekerja sendiri. Keamanan adalah tanggung jawab bersama. Kritik harus disampaikan secara objektif, sementara apresiasi juga patut diberikan kepada anggota polisi yang bekerja dengan jujur, berani, dan penuh pengabdian.
Bhayangkara sejati bukanlah mereka yang ditakuti karena kekuasaan, melainkan mereka yang dihormati karena keadilan. Seragam kepolisian bukan sekadar simbol kewenangan, tetapi amanah untuk melindungi setiap warga negara tanpa membedakan status, kekayaan, maupun kedekatan politik.
Selamat Hari Bhayangkara ke-80.
Semoga Polri semakin profesional, modern, humanis, dan benar-benar menjadi pelindung, pengayom, serta pelayan masyarakat. Sebab kekuatan polisi bukan terletak pada senjata yang dibawanya, melainkan pada kepercayaan rakyat yang mengiringinya.
“Fiat justitia ruat caelum” — hendaklah keadilan ditegakkan sekalipun langit runtuh. Sebab hanya dengan keadilan, Bhayangkara akan tetap dimuliakan; tanpa keadilan, pujian akan berubah menjadi kritik, dan penghormatan akan berganti dengan caci maki. Semoga Bhayangkara makin dihati.(**)







