
Bupati Boltim Blusukan ke Desa Matabulu Bersatu di Tengah Terik, Warga Antusias Sambut Halal Bihalal
IndoFaktual.com, Boltim – Siang hari yang terik di Desa Matabulu Bersatu, Kecamatan Nuangan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, tampaknya sama sekali tidak menghalangi semangat ribuan warga untuk berkumpul. Pada Rabu, 15 April 2026, pukul 12.30 WITA, ketika suhu udara mencapai puncaknya dan aspal jalan memancarkan gelombang panas yang menyengat, justru momen paling dinanti oleh masyarakat setempat tengah berlangsung. Kedatangan Bupati Bolaang Mongondow Timur, Oskar Manoppo, bersama Wakil Bupati Argo V. Sumaiku, dalam rangkaian acara Halal Bihalal Idulfitri 1447 Hijriah.
Berbeda dengan protokol kegiatan resmi yang biasanya berlangsung kaku dan terstruktur, kedua pemimpin daerah ini memilih pendekatan yang jauh lebih humanis. Alih-alih langsung menuju kursi kehormatan di panggung utama, Bupati Oskar dan Wabup Argo memutuskan untuk berjalan kaki menyusuri pemukiman warga. Langkah mereka tidak terburu-buru. Setiap beberapa meter, keduanya berhenti untuk berjabat tangan, bertanya kabar, atau sekadar berbincang ringan dengan warga yang menyambut dengan wajah berseri.
Kehangatan suasana semakin terasa ketika seorang ibu rumah tangga dari salah satu rumah pinggir jalan berseru mengajak Bupati untuk singgah sejenak. Tanpa ragu, Oskar Manoppo menghampiri teras rumah tersebut, menerima hidangan sederhana yang telah disiapkan, dan menikmatinya sambil tertawa bersama keluarga penghuni rumah. Kemeja yang perlahan basah oleh keringat justru menjadi bukti nyata bahwa kehadirannya bukan sekadar formalitas belaka.
Di lokasi lain, Wakil Bupati Argo V. Sumaiku tampak dikerubungi oleh warga dari berbagai generasi. Antrean spontan terbentuk ketika remaja, orang dewasa, hingga lansia bergantian meminta dokumentasi bersama. Meski langkahnya kerap terhenti karena banyaknya permintaan swafoto, raut wajahnya tetap terjaga penuh kesabaran dan senyum yang tulus. Tidak ada penjagaan berlebihan, tidak ada pembatasan jarak yang menciptakan kesan eksklusif.
Suasana di Matabulu Bersatu pada siang itu benar-benar menyerupai festival rakyat. Jalan utama desa dipenuhi warga hingga lalu lintas kendaraan tersendat. Masyarakat dari dusun sekitar bahkan dari kecamatan tetangga datang berbondong-bondong, rela berdesakan demi bisa menyaksikan secara langsung sosok pemimpin yang mereka pilih. Beberapa titik di sepanjang jalan mengalami kemacetan akibat kerumunan, namun ironisnya, justru di situlah tawa dan kegembiraan paling terdengar nyaring. Tak sedikit warga yang spontan menari mengikuti alunan musik dari pengeras suara yang dipasang di beberapa sudut.
Keakraban ini bukanlah pertunjukan semata. Di belakang rombongan utama, terlihat Staf Ahli I TP-PKK Kabupaten Boltim Ny. Lucia Kristina Mokoginta, Sekretaris Daerah M. Iksan Pangalima bersama Ketua Dharma Wanita Persatuan, serta para kepala dinas. Mereka turut berjalan kaki menyatu dengan kerumunan, merasakan denyut nadi kebersamaan yang sama. Tidak ada meja protokoler, tidak ada barikade pembatas. Semua berada dalam satu ruang emosional yang setara.
Bagi Oskar Manoppo dan Argo V. Sumaiku, berjalan di bawah terik matahari sambil menapak tilas setiap rumah warga bukanlah beban administrasi. Justru itulah inti dari kepemimpinan yang mereka junjung: hadir secara nyata, bukan hanya terpampang di spanduk kampanye atau podium pidato. Mendengar keluhan langsung dari mulut petani, merasakan kegembiraan ibu-ibu saat menerima kunjungan, atau sekadar menjadi bagian dari tawa anak-anak yang berlari di sekitar rombongan.
Tradisi Halal Bihalal di wilayah Bolaang Mongondow Timur telah berevolusi melampaui makna klasiknya sebagai ajang saling memaafkan pasca Lebaran. Ia bertransformasi menjadi medium emosional yang menghidupkan kembali hubungan organik antara pemerintah dan rakyatnya. Di Desa Matabulu Bersatu, hal ini terwujud nyata dalam bentuk debu jalanan, keringat bercucuran, dan tawa bersama yang tidak bisa dipalsukan.
Ketika matahari mulai condong ke barat dan rombongan perlahan meninggalkan desa, jejak yang ditinggalkan bukanlah sekadar foto-foto di galeri ponsel warga. Melainkan sebuah pengalaman bersama yang mengukuhkan keyakinan bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari tinggi podiumnya, tetapi dari seberapa dekat ia bisa berdiri di tengah-tengah rakyatnya, dalam keringat, debu, dan kebersamaan yang tulus.
Penulis : Redaksi





