
Berhentilah Ugal-Ugalan, Rakyat Punya Batas Kesabaran
Oleh: B.Dt.Panghulu Basa
Kekuasaan bukanlah mainan yang bisa dimainkan sesuka hati, bukan pula hak istimewa untuk berbuat semaunya. Ia adalah amanah suci yang dipikul di atas pundak, yang suatu hari nanti harus dipertanggungjawabkan—baik di hadapan masyarakat yang memberi kepercayaan, maupun di hadapan lembaran sejarah yang tak akan pernah lupa.
Berhentilah bertindak ugal-ugalan dalam mengelola apa yang telah dipercayakan. Setiap keputusan yang diambil tanpa perhitungan matang, setiap kebijakan yang lahir tanpa mendengar suara yang paling terdengar di akar rumput, hanyalah akan menambah beban berat yang harus dipikul oleh rakyat kecil.
Jangan pernah keliru menafsirkan diamnya rakyat sebagai tanda persetujuan. Seringkali, keheningan itu bukan karena mereka menerima, melainkan karena mereka masih menyimpan secercah harapan. Mereka bersabar, menunggu, berdoa agar pemimpinnya sadar dan kembali ke jalan yang benar. Namun ingat: kesabaran manusia pun ada batasnya. Ketika keluhan tak lagi didengar, ketika aspirasi dianggap sekadar angin lalu, ketika penderitaan dipandang sebagai hal yang biasa saja—maka perlahan namun pasti, kepercayaan yang telah dibangun dengan susah payah akan terkikis habis.
Pepatah tua Minangkabau mengingatkan kita: “Kok tinggi tampak jauah, kok gadang tampak dakek.” Artinya, semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar kewajibannya untuk melihat dengan jelas dan mendengar dengan teliti apa yang dirasakan oleh rakyatnya. Seorang pemimpin tidak boleh hidup di menara gading yang jauh dari denyut kehidupan sehari-hari orang-orang yang dipimpinnya.
Rakyat tidak meminta kemewahan, tidak menuntut hal-hal yang tak masuk akal. Mereka hanya menginginkan tiga hal sederhana: keadilan yang adil, kepastian yang menenangkan, dan keberpihakan yang nyata. Maka, berhentilah menciptakan kebijakan yang hanya menimbulkan kegelisahan dan ketidakpastian. Dengarkanlah suara rakyat selagi masih bisa didengar—sebelum suara itu berubah menjadi kekecewaan mendalam yang sangat sulit untuk dipulihkan kembali.
Ada lagi pepatah bijak yang harus dipegang teguh: “Bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakaik.” Air menjadi bulat karena pembuluhnya, kata menjadi bulat karena kesepakatan bersama. Segala masalah, sekecil apa pun, akan jauh lebih mudah diselesaikan melalui jalan musyawarah, saling berbicara, dan mencari titik temu—bukan dengan bertindak sewenang-wenang dan memaksakan kehendak sendiri.
Ingatlah: pemimpin yang bijak akan selalu membangun dan memperkuat kepercayaan. Namun pemimpin yang ugal-ugalan, yang hanya mementingkan diri sendiri, tidak akan meninggalkan apa pun selain jejak kekecewaan dan kemarahan yang tertinggal lama.
Berhentilah bertindak ugal-ugalan. Kami rakyat, punya batas kesabaran. Amanah itu bukan untuk dipertontonkan, bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk ditunaikan dengan sebaik-baiknya.(*)



