
Ago-Ago di Medsos, Sepi di Sekretariat: Di Mana Keberanian Para Calon Ketua KNPI Tanah Datar?
Opini Oleh:Yulfi Hendri. (Buya)
Di tengah hiruk-pikuk media sosial yang dipenuhi narasi kesiapan, foto konsolidasi, dan klaim dukungan bakal calon Ketua DPD KNPI Tanah Datar, realita di lapangan justru menyajikan gambaran yang ironis. Sudah empat hari pendaftaran dibuka, namun sekretariat pelaksana masih sepi—belum ada satu pun tokoh pemuda yang berani melangkah secara resmi, mengambil formulir, dan membuktikan keseriusan mereka.
Kontras ini sungguh memprihatinkan. Ketua Panitia Pelaksana Yulfi Hendri menyentil dengan ungkapan lokal yang pas: “Apakah ini hanya ago-ago saja? Atau sekadar gadang sarawa?” Pertanyaan ini bukan sekadar sindiran, melainkan cermin dari kebiasaan yang mulai menggerogoti semangat kepemudaan kita—lebih lihai berbicara di balik layar ponsel, namun takut menghadapi realita; lebih gemar membangun citra di jagat maya, namun enggan mengambil tanggung jawab administratif yang paling dasar.
Padahal, nama-nama yang santer disebut sudah ada empat, masing-masing membawa dukungan organisasi pemuda. Di media sosial, seolah-olah perang sudah dimulai, koalisi sudah terbentuk, dan kemenangan sudah di depan mata. Tapi saat tiba waktunya untuk turun ke bumi, menatap mata panitia, dan menyatakan niat secara resmi—semuanya lenyap. Apakah keberanian mereka hanya sebatas tombol “kirim”? Atau ternyata niat yang dinyatakan selama ini bukanlah komitmen yang tulus?
KNPI bukan sekadar gelar atau wadah untuk pencitraan. Ia adalah rumah bagi seluruh pemuda Tanah Datar, tempat di mana gagasan dibentuk, suara disampaikan, dan perubahan diperjuangkan. Jika sejak awal calon pemimpinnya saja tak berani mengambil langkah nyata, bagaimana mereka bisa dipercaya untuk memimpin organisasi yang membutuhkan keberanian, ketegasan, dan ketulusan?
Media sosial memang bisa menjadi sarana penyampaian aspirasi yang efektif, tapi ia tak akan pernah bisa menggantikan aksi nyata. Kesiapan bukan diukur dari seberapa banyak postingan yang viral, melainkan dari seberapa berani seseorang melangkah, mengambil tanggung jawab, dan siap menang maupun kalah secara jujur dan terbuka.
Kepada para tokoh pemuda yang selama ini menyuarakan kesiapan: pindahkanlah semangat itu dari layar ponsel ke sekretariat pendaftaran. Buktikan bahwa itu bukan sekadar kata-kata manis atau janji manis semata. Jangan biarkan Musda XIV KNPI Tanah Datar ini menjadi ajang gadang sarawa—berpakaian megah di dunia maya, namun kosong dan tak berdaya di dunia nyata. Masyarakat pemuda Tanah Datar sedang menunggu sosok yang benar-benar berani, bukan sekadar yang pandai bercerita. (**)



